Rabu, 18 Mei 2016

Karya Ilmiah terbaik Budaya Surakarta



GREBEG SUDIRO: BUDAYA KEARIFAN LOKAL
TIONGHOA-JAWA DI SURAKARTA










Oleh
PRATIKA RIZKI DEWI
NIS. 19202

SMA NEGERI 2 SURAKARTA
Jalan Monginsidi No. 40 Surakarta, Jawa Tengah
Telp. (0271) 653416

2016
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN
Yang bertandatangan dibawah ini,
Nama Lengkap            : Pratika Rizki Dewi
NIS                             : 19202
Kelas                           : XII IIS 1
Sekolah                       : SMA Negeri 2 Surakarta
Alamat Sekolah           : Jalan Monginsidi 40 Surakarta
Telp/faks                     : (0271) 653416/638080
Alamat Rumah            : Jalan Kahuripan Selatan IX 04/04 Sumber, Surakarta
Telp/Hp                       : 085728445940
Menyatakan bahwa penelitian ini yang berjudul “Grebeg Sudiro: Budaya Kearifan Lokal Tionghoa-Jawa di Surakarta” adalah sepenuhnya ditulis oleh peneliti dengan rincian sebagai berikut:
Peneliti
Nama Lengkap
:
PRATIKA RIZKI DEWI
NIS
:
19202
Kelas
:
XII IIS 1
Dikerjakan dibawah pembimbing,
Nama Lengkap
:
Sumargono, M.Pd
Bidang Studi yang Diampu
:
Sejarah
Orisinalitas karya penelitian ini dibuat tanpa ada unsur plagiarisme. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.
Surakarta, 22 April 2016
Pembimbing Penelitian,                                              Peneliti,


Sumargono, M.Pd                                                       Pratika Rizki Dewi
Kepala SMA Negeri 2 Surakarta



Drs. Sutikno, M.M
      NIP. 19630419 198703 1 006
ABSTRAK
Pratika Rizki Dewi. NIS: 19202. 2016. Grebeg Sudiro: Budaya Kearifan Lokal Tionghoa-Jawa di Surakarta. Penelitian. Pembimbing: Sumargono, M.Pd. SMA Negeri 2 Surakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengenalkan Grebeg Sudiro di kalangan masyarakat. Sebelumnya akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai latar belakang dan pelaksanaan perayaan Grebeg Sudiro. Perayaan ini adalah hasil dari akulturasi budaya etnis Tionghoa dengan pribumi Jawa di Surakarta. Hingga tahun ini, tercatat sudah sembilan perayaan yang berhasil dilaksanakan. Biasanya Grebeg Sudiro diadakan satu minggu sebelum perayaan Imlek. Selama waktu tersebut, terdapat beberapa rangkaian kegiatan sepertiUmbul Matram, Wisata Perahu, Kirab Budaya, dan Pesta Kembang Api. Bukan hanya sekedar terlibat dalam perayaan, masyarakat dan generasi muda bersedia untuk memahami nilai budaya kearifan lokal yang dimiliki oleh Grebeg Sudiro.
Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode kualitatif yang bertumpu terhadap analisa data tertulis maupun lisan. Langkah kerja dalam penelitian meliputi: 1) studi pendahuluan, 2) pengumpulan data dan analisa awal, 3) analisa akhir, 4) penarikan kesimpulan dan penulisan laporan. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara, observasi, dan analisa dokumen.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Perayaan Grebeg Sudiro telah digagas sejak tahun 2007 dengan konsep pembauran budaya Tionghoa-Jawa di Sudiroprajan, 2) Grebeg Sudiro diadakan satu minggu sebelum perayaan Imlek dan dipusatkan di kawasan Pasar Gedhe maupun Sudiroprajan. Setiap tahunnya Grebeg Sudiro selalu didasarkan semangat Bhineka Tunggal Ika, 3) Grebeg Sudiro mampu menghapuskan kesenjangan antara etnis Tionghoa dengan pribumi Jawa. Pelestariannya sebagai potensi wisata hendaknya terus diupayakan oleh seluruh pihak dengan tetap berpijak pada nilai tradisi, budaya, dan kearifan lokal di Surakarta.

Kata Kunci: Kebudayaan, Tradisi, Akulturasi.
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa terpanjatkan ke hadirat Tuhan YME karena atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan penelitian ini dapat terselesaikan. Banyak hambatan yang peneliti temui dalam penyelesaian penyusunan penelitian ini, namun hal tersebut tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, saran, dan bantuannya, di antaranya kepada:
1.        Bapak Drs. Sutikno, M.M selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Surakarta.
2.        Bapak Sumargono, M.Pd selaku guru sejarah dan sekaligus pembimbing, yang dengan sabar mendampingi peneliti, memberikan bimbingan, saran, dukungan, dan motivasi sejak awal sampai akhir penulisan penelitian ini.
3.        Bapak Dalima selaku Lurah Sudiroprajan dan Ibu Heni Susilowati selaku kasi tata pemerintah Sudiroprajan, yang telah berkenan memberikan informasi dalam penelitian ini.
4.        Bapak Hong Siang selaku humas klenteng Tien Kok Sie dan Ibu Harti selaku penjaga klenteng Tien Kok Sie, yang telah berkenan memberikan informasi dalam penelitian ini.
5.        Bapak Adjie Chandra selaku tokoh Majelis Kong Hu Chu Indonesia (Makin), yang telah berkenan memberikan informasi dalam penelitian ini.
6.        Bapak Tomi Trihartanto selaku ketua Grebeg Sudiro 2016 sekaligus ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sudiroprajan, yang telah berkenan memberikan informasi dalam penelitian ini.
7.        Semua pihak yang turut membantu penyusunan penelitian ini.
Peneliti menyadari keterbatasan yang dimiliki sehingga penelitian ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak.
Surakarta, 22 April 2016
Peneliti

Pratika Rizki Dewi
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL.......................................................................    i
PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................      ii
ABSTRAK.......................................................................................    iii
KATA PENGANTAR.....................................................................      iv
DAFTAR ISI...................................................................................     v

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .......................................................             1
B.     Rumusan Masalah  ................................................................             1

BAB II. PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang Grebeg Sudiro ..............................................                        2
B.     Proses Perayaan Grebeg Sudiro ............................................             3
C.     Perkembangan Grebeg Sudiro ..............................................             5
D.    Grebeg Sudiro: Wujud Nyata Akulturasi di Surakarta .........             6
E.     Grebeg Sudiro Sebagai Potensi Pariwisata di Surakarta .......                        9

BAB III. PENUTUP
A.    Kesimpulan ...........................................................................             10
B.     Saran .....................................................................................             10

DAFTAR PUSTAKA......................................................................                        11
LAMPIRAN.....................................................................................             12







BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Sejak dahulu, Surakarta telah dikenal sebagai kota yang memiliki tingkat keragaman suku, etnis, budaya, dan agama yang cukup menonjol. Dari beragam etnis yang ada di Surakarta, orang keturunan Cina (Tionghoa) merupakan kelompok dengan perkembangan yang paling pesat. Mereka tinggal di Sungai Pepe sekitar Pasar Gedhe yang dikenal dengan sebutan Kampung Pecinan atau Sudiroprajan (Benny Juwono, 1999: 56).
Interaksi sosial antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Tionghoa terlihat melalui keterbukaan kesempatan untuk saling mengenal budaya. Hal ini ditampilkan dalam perayaan Grebeg Sudiro yang merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dengan Jawa. Tradisi Grebeg Sudiro menyajikan kirab budaya, gunungan, barongsai-liong, hingga rebutan kue keranjang. Melalui karya ilmiah penelitian ini, penulis berharap akan berdampak terhadap pelestarian Grebeg Sudiro bukan hanya dari segi perayaan saja, melainkan dari segi nilai luhur atau kearifan lokal yang diiringi dengan pengembangan potensi pariwisata. Mari lestarikan budaya, sebelum kita tercabut dari akar budaya.
B.       Rumusan Masalah
Berikut adalah rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya ilmiah ini.
1.        Bagaimana latar belakang perayaan Grebeg Sudiro di Surakarta?
2.        Bagaimana pelaksanaan perayaan Grebeg Sudiro di Surakarta?
3.        Text Box: 1Bagaimana nilai budaya dan pelestarian perayaan Grebeg Sudiro di Surakarta?
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Latar Belakang Grebeg Sudiro
Grebeg Sudiro merupakan sebuah tradisi baru yang menunjukkan potret pembauran budaya antara tradisi Jawa dengan Tionghoa. Perayaan ini bukan hanya sebuah pesta menyambut Imlek saja, melainkan menjadi syukur dari indahnya keberagaman dan toleransi. Perayaan Grebeg Sudiro merupakan pengembangan tradisi yang telah ada sebelumnya, yaitu Buk Teko yang sudah dirayakan semenjak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana X (1893-1939).Meskipun memiliki latar belakang sejarah, namun keberadaannya lebih tepat digolongkan kedalam sejarah kontemporer.
Grebeg Sudiro diciptakan pada tahun 2007 oleh warga Sudiroprajan yaitu Bapak Oeki Bengki, Bapak Sarjono Lelono Putro, dan Bapak Kamajaya. Gagasan ini sebenarnya tercipta dari ketidaksengajaan ketika para pendiri sedang berkumpul di depan Pasar Gedhe. Mereka memiliki kesamaan pemikiran untuk mengangkat nama Sudiroprajan agar dikenal masyarakat luas. Grebeg Sudiro berasal dari kata Grebeg yang berarti perayaan syukur oleh masyarakat Jawa, dan Sudiro merupakan nama daerah dominasi Tionghoa di Surakarta. Setiap tahunnya perayaan ini selalu mengambil makna filosofis dari Bhineka Tunggal Ika (Wawancara dengan Dalima selaku Lurah Sudiroprajan, Selasa 8 Maret 2016).
Text Box: 2Suasana Imlek inilah sering dijadikan salah satu ukuran guna menilai “Kebangkitan etnis Tionghoa”. Imlek dijadikan salah satu strategi esensialisme (essentialism), dimana simbol-simbol identitas Tionghoa kembali dihadirkan dalam proses politik pengakuan (Christine Susanna Tjhin, 2008: 355).
B.       Proses Perayaan Grebeg Sudiro
Perayaan Grebeg Sudiro diadakan seminggu sebelum Imlek. Sebagai upaya untuk memperlancarnya, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum puncak perayaan (pra-event). Tiga hari menjelang puncak Grebeg Sudiro, diadakan tradisi “Sedekah Bumi” dimana masyarakat mengadakan kirab mengelilingi kampung Sudiroprajan. Kirab dilakukan untuk memohon berkat dan doa demi kelancaran Grebeg Sudiro. Setelah sedekah bumi, akan dilanjutkan dengan tarian Sudiro Seto hingga orkes musik Manunggaling Rasa Sudiroprajan.
Selanjutnya, puncak perayaan Grebeg Sudiro dipusatkan di Pasar Gedhe untuk tahun ini berlangsung pada 31 Januari 2016. Tema perayaan tahun ke IX ini adalah “Harmoni dalam Kebhinekaan” yang terdiri dari empat perayaan yang mendukung, yakni:
1.      Umbul Mantram dan Pergelaran Wayang Kulit (28 Januari 2016 di Balong)
2.      Bazar Potensi dan Wisata Perahu Hias Kali Pepe (28 Januari-7 Februari 2016 di bantaran Sungai Pepe sekitar Pasar Gedhe)
3.      Karnaval Budaya Grebeg Sudiro (31 Januari 2016, dengan rute kirab Pasar Gedhe-Jl.Jend Sudirman-Jl.Mayor Sunaryo, Jl.Kapten Mulyadi- Perempatan Ketandan-Jl.R.E Martadinata-Jl.Cut Nyak Dien-Jl.Ir Juanda-Perempatan Warung Pelem-Jl.Urip Sumoharjo-Pasar Gedhe)
4.      Pesta Kembang Api (7 Februari 2016 di kawasan pasar Gedhe)
Perayaan Grebeg Sudiro 2016 berbeda dengan tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan Grebeg Sudiro telah dijadikan sebagai event nasional. Perayaan diawali dengan penjemputan perwakilan kementerian dari balaikota Surakarta menuju panggung Grebeg Sudiro dengan menggunakan kereta kencana. Dalam penjemputan ini, Bapak FX. Hadi Rudyatmo selaku Walikota Surakarta bertugas sebagai cucuk lampah yang berjalan di barisan paling depan dan ada pula Anoman sebagai perwakilan Jawa serta Sung Go Kong sebagai perwakilan Tionghoa. Kereta kencana bukanlah menggambarkan penguasa, melainkan pembauran dengan masyarakat (Wawancara dengan Tomi Trihartanto selaku ketua Grebeg Sudiro 2016, Kamis 10 Maret 2016).
Perayaan dilanjutkan dengan kirab budaya yang diawali dan diakhiri di Pasar Gedhe. Sebelum kirab budaya dimulai, semua gunungan dan barongsai maupun liong dibawa ke klenteng Tien Kok Sie untuk disembhayangkan memperoleh doa dan berkat. Selanjutnya diarak dengan iringan berbagai kesenian perpaduan Jawa dan Tionghoa, seperti jodang budaya, gunungan jaler dan estri, Solo Batik Carnival (SBC),lakon punakawan, prajurit keraton, hingga busana nusantara.
Momen yang paling dinantikan dalam perayaan Grebeg Sudiro adalah gunungan kue keranjang yang diperebutkan masyarakat. Total sebanyak 4.000 buah kue keranjang seberat 1 ton, ditata dalam gunungan berbagai bentuk yang disebar dalam 5 titik wilayah untuk dibagikan. Dalam hitungan detik, ribuan kue keranjang ludes habis. Perebutan ini menjadi simbol bahwa manusia hidup tidak boleh berdiam diri saja. Manusia harus bergerak, harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Manusia yang hanya diam saja berarti telah mati, tidak punya impian, dan tidak memiliki cita-cita. Berakhirnya rebutan gunungan kue keranjang, disusul dengan penyalaan lampion buk teko yang dipasang di lantai dasar Pasar Gedhe. Penyalaan lampion ini menandai dimulainya Imlek bagi etnis Tionghoa (Tissania Clarasati Adriana, 2012: 58).
C.      Perkembangan Grebeg Sudiro
Setiap tahunnya, Grebeg Sudiro mampu menampilkan integrasi antara Tionghoa-Jawa dengan berbagai inovasinya. Berikut adalah perkembangan Grebeg Sudiro berdasarkan tema tahun ke tahun:
1)      Grebeg Sudiro 2008 : Belum memiliki tema tertentu
2)      Grebeg Sudiro 2009 : Belum memiliki tema tertentu
3)      Grebeg Sudiro 2010 : Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
4)      Grebeg Sudiro 2011 : Kebhinekaan dalam Kebersamaan
5)      Grebeg Sudiro 2012 : Guyub Rukun Agawe Santoso, Sudiro Kampung Kebhinekaan Bersatu dalam Keberagaman
6)      Grebeg Sudiro 2013 : Merangkai Kebhinekaan Perkokoh Kesatuan
7)      Grebeg Sudiro 2014  : Melukis Indonesia Bernafas Bhineka Tunggal Ika
8)      Grebeg Sudiro 2015  : Manunggaling Budaya Nguri-uri Luhuring Bangsa
9)      Grebeg Sudiro 2016 : Harmoni dalam Kebhinekaan
Pada awal keberadaannya, Grebeg Sudiro hanya menjadi event kampung, barulah di tahun 2010 Grebeg Sudiro diangkat menjadi agenda tahunan kota Surakarta. Keberadaan Grebeg Sudiro yang menarik perhatian dengan tetap menampilkan identitas budaya, menjadikannya ditetapkan sebagai event nasional di tahun 2016.
Kebhinekaan yang ada di berbagai komunitas mampu mengikat diri sendiri sebagai bangsa karena faktor kebersamaan dan keinginan sukarela untuk hidup bersama (Purwasito, 2015: 218). Fenomena yang terjadi di Sudiroprajan ketika budaya etnis Tionghoa masuk dan pribumi Jawa bersedia menerima dan terbuka, telah mampu mencerminkan sikap luhur kearifan lokal bangsa Indonesia.
D.      Grebeg Sudiro: Wujud Nyata Akulturasi di Surakarta
Perayaan Grebeg selalu identik dengan gunungan. Seperti halnya Grebeg Maulud ataupun Grebeg Sekaten, masyarakat Sudiroprajan menampilkan ucapan syukur dalam bermacam-macam gunungan yang mengandung filosofi budaya.
a.         Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan)
Gunungan jaler dibuat lebih besar daripada estri. Hal ini dikarenakan gunungan jaler melambangkan raja, sosok laki-laki, dan gunungan estri melambangkan permaisuri raja. Kedua gunungan ini diisi dengan kue keranjang yang disusun menjulang. Menurut kepercayaan Khong Hu Chu seminggu sebelum Imlek, Dewa Dapur atau Cau Kun Kong akan singgah ke rumah-rumah lalu kembali ke langit. Oleh karena itu, kue keranjang dibuat manis untuk menyenangkan Dewa Dapur dengan tujuan supaya Dewa Dapur memberitakan hal-hal manis kepada Tuhan. Selain itu, makna lainnya berasal dari bahan dasar kue keranjang. Ketan lambang dari Tionghoa dan gula merah lambang dari Jawa, keduanya lengket yang bermakna mampu mengakrabkan (Wawancara dengan Adjie Chandra selaku tokoh MAKIN, Rabu 9 Maret 2016).
b.        Gunungan Pawuhan
Gunungan pawuhan diletakkan di jodang dan disusun menjulang dengan ukuran yang lebih kecil dari gunungan utama. Pada bagian puncak gunungan diletakkan bendera merah putih sebagai mustaka atau mahkota sebagai lambang cucu raja atau lebih dimaknai sebagai generasi muda. Bendera merah putih juga melambangkan sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Gunungan ini berisi jajanan pasar seperti bakpao, bakpia, dan onde-onde. Pada akhir kirab budaya, gunungan pawuhan juga diperebutkan oleh masyarakat.
Akulturasi bukan hanya terlihat dari gunungan saja, melainkan dari segi lain seperti ornamen maupun proses perayaan, antara lain:
a.         Lampion Imlek dan Lampion Buk Teko
Dalam perayaan Grebeg Sudiro, kawasan Sudiroprajan dan Pasar Gedhe selalu dihiasi dengan lampion khas Tionghoa. Lampion ini melambangkan kemeriahan dan kebahagiaan menyambut Imlek. Selain itu, terdapat pula sebuah lampion unik yang tergantung di Pasar Gedhe yaitu lampion Buk Teko. Lampion ini berbentuk menyerupai teko berukuran besar dan dibuat untuk mengenang Sunan Paku Buwana II. Ketikan Sunan sedang melewati Sungai Pepe, tutup teko miliknya terjatuh dan dicari tetapi tidak ditemukan. Tutup teko yang terjatuh menjadi simbol rakyat kecil, sedangkan teko disimbolkan sebagai penguasa. Sehingga antara rakyat dan penguasa diharapkan bersatu. Selain itu, ada kepercayaan lain yang menyebutkan buk teko adalah nama salah satu tokoh kuno Sudiroprajan yang biasa disebut mbah teko (Wawancara dengan Adjie Chandra selaku tokoh MAKIN, Rabu 9 Maret 2016).
b.        Perahu Jawa dan Perahu Tionghoa
Selama berada dalam perayaan Grebeg Sudiro hingga Cap Go Meh, setiap malam selalu diadakan festival perahu di Sungai Pepe Sudiroprajan. Sungai ini menjadi jalur awal kedatangan etnis Tionghoa ke Surakarta. Disediakan dua buah perahu, satu perahu dihiasi ornamen Tionghoa dan perahu lainnya dihiasi ornamen Jawa. Kedua perahu ini berjalan beriringan sehingga menjadi simbol keberadaan Tionghoa yang telah mampu berinteraksi dalam iringan harmonis dengan pribumi Jawa (Wawancara dengan Hong Siang selaku humas Klenteng Tien Kok Sie, Senin 7 Maret 2016).
c.         Barongsai dan Liong
Barongsai berasal dari kala barong yang artinya topeng dan sai penyesuaian dari samsi yang berarti singa. Barongsai dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan kebahagiaan dan dipercaya merupakan pertunjukan yang bisa membawa keberuntungan. Barongsai juga diyakini sebagai tradisi tolak bala. Pasangan kesenian barongsai adalah liong. Liong merupakan tarian naga yang melambangkan kecerdasan dan kearifan serta dipercaya dapat membawa keberuntungan, kesuburan, dan kebijaksanaan. Pada kening barongsai dan liong terdapat tulisan Wang yang berarti raja, dalam tulisan atau huruf Cina terdiri dari 3 garis mendatar dan 1 garis vertikal. Tulisan tersebut melambangkan bahwa kita manusia tidak terlepas dari 3 unsur yaitu Tuhan, alam (bumi), dan makhluk hidup (manusia). Kesenian ini telah mengalami akulturasi dengan budaya Indonesia, sehingga semua ornamen dan gerakan tari-tariannya sudah disesuaikan dengan selera lokal. Jika dilihat lebih saksama, maka akan terlihat bahwa penari barongsai dan liong didominasi oleh pribumi Jawa bukan Tionghoa. Hal ini membuktikan bahwa kesenian Tionghoa telah diterima oleh pribumi Jawa (Wawancara dengan Adjie Chandra selaku tokoh MAKIN, Rabu 9 Maret 2016).
Apa saja yang dipakai, dimakan, dan dikerjakan, benda apa saja yang diciptakan merupakan simbol komunikasi. Grebeg Sudiro mampu menjadi saluran yang tepat dari masyarakat Sudiroprajan dalam membina pendidikan komunikasi multikultural yang baik pada masyarakat Surakarta (Raffa Widyaningsih, 2015: 79). Bapak Dalima selaku lurah Sudiroprajan menjelaskan bahwa melalui Grebeg Sudiro prasangka antar etnis berhasil diruntuhkan. Sudah tidak ada lagi penyebutan etnis Tionghoa sebagai asing, mereka adalah bagian dari kita.
E.       Grebeg Sudiro Sebagai Potensi Pariwisata di Surakarta
Kota Surakarta memiliki potensi tinggi terutama berkaitan dengan kesenian, sejarah, dan budaya. Grebeg Sudiro menjadi salah satu aset budaya di Kota Surakarta yang mampu dikenalkan hingga dunia internasional. Berbagai langkah dapat dilakukan untuk menunjang keberadaan Grebeg Sudiro sebagai potensi pariwisata, seperti:
1.        Revitalisasi bangunan kuno di kawasan Balong-Sudiroprajan
2.        Penataan Pasar Gedhe dan koridor Urip Sumoharjo
3.        Wisata kuliner perpaduan Tionghoa-Jawa
4.        Promosi Grebeg Sudiro (pra-event)
Distribusi dan Diagram Pelaksanaan Grebeg Sudiro
Berdasarkan validasi pelaksanaan Grebeg Sudiro, masyarakat Surakarta sangat setuju dan mendukung perayaan tersebut. Potensi wisata dimaknai sebagai keunggulan yang tetap harus menyesuaikan dengan budaya lokal daerah. Akulturasi budaya yang seimbang dalam Grebeg Sudiro hendaknya selalu dijaga keberadaannya, karena inilah yang akan menjadi warisan luhur budaya Surakarta dan Indonesia. Mari bersama kita wujudkan masyarakat berbudaya, banggalah dengan budaya daerah yang kita miliki.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan karya ilmiah dengan judul “Grebeg Sudiro: Budaya Kearifan Lokal Tionghoa-Jawa di Surakarta” dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.        Grebeg Sudiro merupakan sebuah akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dengan pribumi Jawa di Sudiroprajan. Perayaan ini dicetuskan pada tahun 2007 oleh masyarakat Sudiroprajan yaitu Bapak Oeki Bengki, Bapak Sarjono Lelono Putro, dan Bapak Kamajaya. Grebeg Sudiro diadakan seminggu sebelum Imlek, dengan kegiatan utama kirab budaya dan rebutan gunungan.
2.        Grebeg Sudiro mampu menghapus kesenjangan antara etnis Tionghoa maupun Jawa. Pelestarian Grebeg Sudiro sebagai potensi wisata di Surakarta merupakan hal yang sangat penting dilakukan, terutama terkait keberadaan nilai budaya yang dimilikinya.
B.       Saran
Beberapa saran dapat penulis sampaikan, antara lain:
1.        Kepada seluruh masyarakat Surakarta. Mewujudkan suatu kesatuan antar etnis bukanlah hal yang mudah, sehingga diperlukan kesadaran dan kerjasama dari berbagai pihak. Keberadaan Grebeg Sudiro hendaknya mampu dijadikan sebagai jembatan persatuan.
2.        Text Box: 10Kepada Dinas Pariwisata Surakarta. Grebeg Sudiro kaya dengan nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Hendaknya pihak yang terkait dengan pariwisata bersedia mendukung keberadaan Grebeg Sudiro, sebagai salah satu warisan budaya. Melalui budaya, bangsa akan dikenal dan memperkuat identitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Tertulis Buku:
Christine Susanna Tjhin. 2008. Pemikiran Tionghoa Muda, Cokin? So What Gitu Loh!. Jakarta: Komunitas Bambu.
Justian Suhandinata. 2009. WNI Keturunan Tionghoa Dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kinasih, Ayu Windy. 2007. Identitas Etnis Tionghoa di Kota Solo. Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada.
Mackie J.A.C. 1991. Perang Ekonomi dan Identitas Cina di Indonesia dan Muanghtai. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Mely G. Tan. 1979. Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia, Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Onghokham. 2008. Anti Cina, Kapitalisme Cina, dan Gerakan Cina Sejarah Etnis Cina di Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu.
Rustopo. 2007. Menjadi Jawa (Orang-orang Tionghoa dalam Kebudayaan Jawa). Yogyakarta: Ombak.
Sumber Tertulis Jurnal:
Adriana, Clarasati Tissania. 2012. Skripsi: Tradisi Grebeg Sudiro di Sudiroprajan (Akulturasi Kebudayaan Tionghoa dengan Kebudayaan Jawa). Surakarta: Jurusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Juwono Benny. 1999. Lembar Sejarah: Masyarakat Cina di Indonesia pada Masa Kolonial (Etnis Cina di Surakarta 1890-1927: Tinjauan Sosial Ekonomi). Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Widyaningsih Raffa. 2015. Skripsi: Misi Suci Grebeg Sudiro (Studi Ekspolratif Pesan Ritual Budaya Grebeg Sudiro dalam rangka Persatuan). Surakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.
Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.
Sumber Wawancara:
Wawancara dengan Adjie Chandra selaku tokoh Majelis Kong Hu Chu Indonesia (MAKIN), pada 9 Maret 2016.
Wawancara dengan Dalima selaku lurah Sudiroprajan, pada 8 Maret 2016.
Wawancara dengan Harna selaku penjaga Klenteng Tien Kok Sie, pada 7 Maret 2016.
Wawancara dengan Heni Susilowati selaku kasi tata usaha, pada 8 Maret 2016.
Wawancara dengan Hong Siang selaku humas Klenteng Tien Kok Sie, pada 7 Maret 2016.
Text Box: 11Wawancara dengan Tomi Trihartanto selaku Ketua Grebeg Sudiro 2016 dan Ketua Pokdarwis, pada 10 Maret 2016.
LAMPIRAN
Lampiran 1 : Daftar Informan
1.        Nama                    : Bapak Hong Siang
Alamat                 : Jalan RE. Martadinata No. 12 Pasar Gedhe, Surakarta
Pekerjaan              : Humas Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gedhe
2.        Nama                    : Ibu Harti
Alamat                 : Jalan Re. Martadinata No. 12 Pasar Gedhe, Surakarta
Pekerjaan              : Penjaga Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gedhe
3.        Nama                    : Bapak Dalima
Alamat                 : Jalan RE. Martadinata No. 136 Jebres, Surakarta
Pekerjaan              : Lurah Sudiroprajan
4.        Nama                    : Ibu Heni Susilowati
Alamat                 : Jalan RE. Martadinata No. 136 Jebres, Surakarta
Pekerjaan              : Kasi Tata Pemerintahan Sudiroprajan
5.        Nama                    : Bapak Adjie Chandra
Alamat                 : Jalan Jagalan No. 15 Jebres, Surakarta
Pekerjaan              : Pengurus Majelis Kong Hu Chu Indonesia (Makin)
6.        Nama                    : Bapak Tomi Trihartanto
Alamat                 : Jalan Kali Ampar Jagalan Rt 02 Rw 12 Jebres, Surakarta
Pekerjaan              : Ketua Grebeg Sudiro dan Ketua Pokdarwis Sudiroprajan







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar